Menghilang begitu saja

IDWS, Senin, 3 Desember 2018 - Seorang jurnalis foto asal pemenang penghargaan asal China menghilang setelah dilaporkan ditahan oleh pihak otoritas di Xinjiang, sebuah wilayah yang tengah menjadi sorotan karena dugaan penyekapan dan pengasingan lebih dari sejuta umat muslim Uyghur.

 

Lu Guang

Lu Guang, jurnalis foto yang menghilang di Xinjiang, China, pada awal November lalu. (Foto: CNN)

Menghilangnya Lu Guang diungkapkan oleh sang istri, Xu Xiaoli yang memposting berita akan menghilangnya sang suami di sosial media Twitter dan mengatakan bahwa dirinya tak bisa menghubungi Lu Guang sejak awal November.

Dalam cuitan Twitter serta pembicaraan teleponnya dengan CNN, Xu Xiaoli menuturkan bahwa Lu Guang saat itu pergi ke Xinjiang, yang terletak Barat Laut China pada tanggal 3 November 2018 ketika ia kehilangan kontak dengan suaminya itu. Menurut Xu, suaminya pernah berhubungan dengan para fotografer di Urumqi, ibukota dari provinsi Xinjiang seminggu sebelumnya. Ia lalu berencana menemui seorang teman di Sichuan pada tanggal 5 November namun ia tak pernah muncul untuk menemui temannya itu.

Meski banyak detail seputar menghilangnya Lu Guang masih tanda tanya, kasus menghilangnya sang jurnalis telah menarik perhatian khalayak luas kepada kebijakan Partai Komunis China akan pembatasan kebebasan berbicara serta penolakan terhadap perbedaan pendapat.

Setidaknya, 41 jurnalis dipenjara di China hingga akhir 2017, dilansir dari laporan Komite Perlindungan Jurnalis (Comitte to Protect Journalists/CPJ). Hanya Turki yang dilaporkan memenjarakan lebih banyak jurnalis ketimbang China.

Berbagai organisasi advokasi jurnalis seperti CPJ saat ini terus menghubungi Beijing terkait kasus menghilangnya Lu Guang. "Otoritas China harus bertanggung jawab atas keberadaan Lu Guang, mengizinkannya untuk bebas bepergian, dan menghentikan tindakan-tindakan keras terhadap jurnalis di negeri mereka," tutur Steven Butler, koordinator dari program Asia dari CPJ.

 

Meraih berbagai penghargaan

Karya-karya fotografi Lu Guang mengekspos realita kehidupan dari orang-orang kasta bawah di China, seperti pekerja tambang, pecandu narkotik dan pasien HIV. Lu Guang juga menerima berbagai penghargaan fotografi, termasuk tiga penghargaan kontes World Press Photo, Henri Nannen Prize dari Jerman untuk Fotografi, dan National Geographic Photography Grant. Ia juga merupakan fotografer pertama dari China yang diundang oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat sebagai visiting scholar.

 

 

Sang istri, Xu Xiaoli, tinggal di New York bersama anak-anak mereka sedangkan Lu Guang sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya di China.

Xu menuturkan bahwa ia telah mencoba menghubungi polisi Xinjiang namun belum bisa berbicara dengan seorang pejabat pun. Ia juga menambahkan alasannya tidak menghubungi otoritas Amerika Serikat untuk meminta bantuan tak lain adalah "tidak akan ada gunanya juga."

Xu lalu mencoba menghubungi istri dari seorang fotografer yang mengajak Lu Guang untuk mengunjungi Xinjiang, yang sayangnya juga kehilangan kontak dengan suaminya tersebut.

 

Membuka mata dunia

Lu Guang menghadapi banyak rintangan untuk bisa mengabadikan apa yang terjadi pada kasta terbawah di China agar diketahui oleh dunia. Dari dipukuli, dikejar-kejar, hingga sogokan uang.

Berkat Lu Guang, dunia akhirnya melihat sisi gelap dari China seperti desa-desa penuh penderita HIV dan kanker, tambang emas di Tibet, gempa Bumi Sichuan, desertifikasi lahan, anak-anak yang lahir cacat, orang-orang dengan luka akibat ranjau, pencandu narkotik, hingga pembuangan limbah minyak.

Lu memenangi penghargaan kontes World Press Photo berkat foto-foto akan penduduk desa di China yang terinfeksi HIV karena menjual darah mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup. Mereka menjual 1 pint darah seharga 50 yuan, cukup untuk membeli dua bungkus pupuk. Dari 3,000 orang, 678 telah terjangkit virus HIV dan 200 meninggal dunia. (stefanus/IDGS)

 

"Jika tidak ada catatan, polusi ini tidak akan eksis" — Lu Guang

 

Kota Wuhai, Mongolia Dalam, 2005

 

 

Xu Li (11) dari Hutsou didiagnosis mengidap kanker tulang

 

Anak-anak yatim piatu yang cacat diadopsi oleh petani-petani dermawan

 

Anak-anak penderita cerebral palsy mejilati bubuk susu di permukaan kasur untuk makan

 

 


Sumber

Sumber Foto: 9gag, World Press Photo Foundation/YouTube