Proses evakuasi korban kecelakaan KRL TM 5568A yang tertabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4) pukul 20:57 telah selesai dilakukan Selasa pagi (28/4). pukul 08:00 WIB.
Berdasarkan informasi diunggah di Instagram resmi Basarnas 'sar_nasional' (28/4), 14 orang dinyatakan meninggal dunia, sedangkan 84 orang alami luka dan masih alam observasi medis. Mayjen M Syafii selaku Kepala Basarnas katakan bahwa 100% korban meninggal dunia adalah perempuan.
BBC Indonesia melaporkan (28/4), Franoto Wibowo selaku Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta menyebut kecelakaan ini bermula dari adanya taksi (Green SM Indonesia) mogok di JPL (Jalur Perlintasan Langsung) dekat Bulak Kapal yang membuat laju KRL terhenti.
Saat terhenti, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama pun menabrak bagian belakang KRL. Bagian tersebut adalah gerbong khusus wanita. Hal inilah yang mengakibatkan para korban meninggal dunia adalah perempuan.
Deddy Herlambang selaku Ketua Forum Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), dalam keterangan tertulis kepada BBC Indonesia (28/4), ada 2 isu keselamatan dalam tragedi ini.
Isu keselamatan pertama adalah mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu (JPL 85). Kedua adalah masinis diduga lalai melihat sinyal berhenti (warna merah) hingga akibatkan kereta menabrak kereta lain dari belakang.
Dikatakan oleh Deddy, pada lintas Kereta Api Jatinegara-Cikarang menggunakan persinyalan open block. Hal itu berarti, jika ada rangkaian Kereta Api berhenti, sinyal di belakangnya akan menyala merah otomatis. Kereta Api di belakangnya wajib berhenti.
Deddy melanjutkan, jika masinis lalai atau tidak melihat sinyal warna merah tersebut, dapat dipastikan akan terjadi Kecelakaan Kereta Api yang menabrak Kereta Api di depannya.