Dinas Keamanan Federal (FSB) Rusia pada hari ini (29/7) merilis status pendiri yang juga CEO Telegram, Pavel Durov, sebagai buronan internasional. Durov didakwa atas tuduhan kasus pidana terkait dukungan atau memfasilitasi kegiatan terorisme.
Ketika berita ini terangkat ke publik, akun X 'telegram' mengunggah foto Pavel Durov mengacungkan jari tengahnya. Foto tersebut adalah foto yang sebelumnya diunggah ketika ia menolak "pengambilalihan" media sosial yang ia dirikan (bersama rekannya), VKontakte, kepada Mail.ru Group pada tahun 2012.
Dalam rilis FSB, mereka mempermasalahkan chatbot 'Dayvinchik/Leo - Dating, Chat, and New Friends' di Telegram. Bot 'Dayvinchik/Leo' digunakan intelejen Ukraina untuk merekrut warga Rusia ke dalam aktivitas sabotase dan terorisme melalui penipuan dan manipulasi psikologis.
Operasi gabungan dilakukan Kementerian Dalam Negeri dan Komite Investigasi Rusia sejak Juli 2025 dilaporkan telah menangkap 46 warga Rusia berusia 12 hingga 22 tahun.
Terjaring di lebih dari 15 wilayah termasuk Moscow dan St. Petersburg. Warga Rusia tersebut diperintah intelejen Ukraina untuk melakukan serangan bersenjata kepada aparat penegak hukum, pembakaran beberapa fasilitas (transportasi, energi, komunikasi, perbankan), serta menjadi kurir pengirim dana aset kripto ke akun musuh Rusia.
Selain terkait sabotase dan terorisme, pada 23 Desember 2025, chatbot 'Dayvinchik/Leo' dimasukkan ke dalam Daftar Terpadu Situs Web Terlarang Roskomnadzor. Chatbot tersebut dianggap memuat konten pornografi anak dan propaganda LGBT yang telah ditetapkan sebagai organisasi ekstrimis oleh Mahkamah Agung Rusia sejak 30 November 2023.
FSB menyebut Telegram hingga kini belum juga menghapus konten terkait kasus ini, yang tersebar di berbagai kanal, grup, dan bot yang menurut mereka digunakan oleh intelejen Ukraina, serta organisasi teroris atau ekstrimis yang mengancam Rusia. Hal inilah yang menyeret Pavel Durov menjadi buronan internasional.