Proses penelitian terkait fenomena api misterius di sebuah rumah warga Seyegan, Sleman, Yogyakarta, telah resmi usai. Tim gabungan akademisi tidak menemukan kaitan api misterius tersebut dengan fenomena alam.

Menurut catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, api muncul pertama kali pada 23 Mei 2026 dan telah ada 126 kemunculan api dalam kurun 22 hari. Dari laporan diterima, total kerugian ditaksir mencapai Rp 45 juta.

Fenomena api ini diteliti oleh tim gabugan akedemisi dari Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Pembangunan Nasional (UPN), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), serta Gegana.

Dilaporkan Harian Jogja (16/6), Bambang Kuntoro selaku Kepala Pelaksana BPBD Sleman katakan bahwa dari hasil penelitian dilakukan, fenomena api yang muncul di Seyegan ini tidak ada hubungannya dengan fenomena alam.

Sebelumnya sejumlah gas termasuk metana, hidrogen, gas fosfin, serta gas rawa, diduga menjadi pemicu kemunculan api. Namun akhirnya diketahui bahwa gas-gas tersebut memiliki kadar di bawah ambang batas yang memungkinkan terjadinya pembakaran.

Penelitian resmi usai dan hasil kajian dari penelitian ini kemudian diserahkan BPBD Sleman kepada kepolisian untuk telusuri faktor penyebab lain dari fenomena api di Seyegan ini.

Hasil rekaman 2 CCTV dipasang BPBD di rumah kejadian juga akan disiapkan jika diperlukan pihak kepolisian untuk menjadi data pendukung penyelidikan kepolisian.

Melansir dari detikJogja (17/6), Mutfiana (Fia) selaku salah satu penghuni rumah, menjelaskan mengapa api tidak lagi muncul setelah rumahnya dipasangi CCTV. Diketahui 3 hari terakhir tidak ada kebakaran.

Ia katakan bahwa keluarganya telah mengevakuasi seluruh barang yang mudah terbakar di lantai 1, hanya menyisakan lemari kayu, freezer, dan akuarium.

Fia membantah isu fenomena api di rumahnya ini adalah hasil rekayasa. Ia terbuka dan persilakan pihak kepolisian jika ingin lakukan pemeriksaan terhadap anggota keluarganya.