Konten kreator China, Yu Jinhui (22), dapatkan hujan pujian warganet China atas aksinya mengantarkan teman sekampusnya melihat mendiang ibunya untuk terakhir kalinya. Yu Jinhui menempuh perjalanan sekitar 1.300 km dari Ningxia hingga Hubei.
Cerita perjalanan ini bermula saat ia dikontak oleh teman asramanya untuk membantu teman sekamarnya pulang kampung karena menerima kabar ibunya mendadak meninggal dunia pada 7 Mei 2026 malam hari.
Yu Jinhui dikontak karena tidak ada penerbangan maupun kereta cepat langsung menuju kampung halaman mahasiswi yang tidak disebutkan identitasnya tersebut. Rumahnya berada di daerah pedesaan terpencil di pegunungan.
Satu-satunya transportasi umum yang bisa digunakan adalah melalui transit ke Chongqing, lalu naik turun beberapa rute bus, sebelum sampai ke tempat tujuan.
Selain karena persoalan transportasi, Yu Jinhui dimintai bantuan karena ia bersama ketiga rekannya bernama Yan Runhang, Jin Fanchao, serta Lin Xinlong, mengelola akun Douyin 于鱼丘比特 (Yu Yu Cupid).
Memiliki 740 ribu pengikut dan dikenal suka membantu sesama, nama Yu Jinhui lah yang ada di pikiran teman sekampusnya di Beifang Minzu Daxue (North Minzu University) itu untuk dimintai bantuan.
Mahasiswi yang tengah menghadapi tekanan sidang kelulusan tersebut dalam kondisi mental buruk karena menerima berita duka ini, takut tak bisa melihat mendiang ibunya untuk terakhir kalinya.
Awalnya, mahasiswi itu bersedia membayar biaya bensin dan perjalanan asalkan bisa diantarkan pulang. Namun setelah mengetahui kondisinya, Yu Jinhui bergegas mengantarkannya dengan mobil pada 8 Mei pukul 01:30.
Setelah 13 jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tujuan, yakni di Kotapraja Wendou, Linchuan, Hubei. Diketahui ternyata ibu mahasiswi tersebut hanya tinggal sendirian. Hanya ada kerabat dan tetanga yang menyiapkan pemakaman. Ayah dan kakak mahasiswi itu masih dalam perjalanan dari Zhejiang.
Berisitrahat kurang lebih 2 jam, tim Yu Yu Cupid berpamitan untuk pulang karena tidak ingin merepotkan keluarga yang sedang berduka.
Saat tengah beristirahat dalam perjalanan kembali ke asrama, Yu Jinhui diwawancarai oleh reporter Dahe Daily. Yu Jinhui katakan bahwa ia membantu karena memahami kondisi mahasiswi itu.
Diceritakan Yu Jinhui, beberapa waktu lalu ia dihubungi tengah malam untuk mengabarkan bahwa ibunya jatuh dari proyek bangunan dan alami kondisi kritis. Ia langsung bergegas pulang. Untungnya, meski alami cedera kaki, ibunya dalam kondisi selamat.
Selain itu, mereka juga sama-sama mahasiswa tingkat akhir yang penuh pikiran dengan persiapan sidang akhir. Jadi Yu Jinhui sangat memahami perasaan mahasiswi yang ia bantu.
Mahasiswa jurusan Olahraga itu pun mengutip pepatah China "树欲静而风不止" yang secara harfiah dalam bahasa Indonesia adalah "Pohon ingin diam, namun angin tak berhenti". Pepatah itu bermakna "seorang anak ingin berbakti, namun orang tuanya telah tiada". Oleh karenanya ia ingin menjadi anak yang berbakti selagi orang tuanya masih hidup.
Salah satu hal disoroti warganet dalam perjalanan ini adalah hanya Yu Jinhui yang berada di kursi kemudi. Ia pun menjawab bahwa ketiga temannya adalah pemula dalam urusan menyetir. Yu Jinhui tidak ingin melewatkan sedikit pun waktu untuk sampai tujuan.
Karena hanya dirinya yang menyetir, Yu Jinhui meminum banyak minuman berenergi supaya tetap fokus. Ketiga temannya juga mengajaknya mengobrol di perjalanan supaya tidak tertidur. Akhirnya ia bisa sampai tujuan, meski harus muntah-muntah setelahnya.
Dalam akhir perjalanan ini, Yu Jinhui menolak uang bensin dan perjalanan yang ingin diberikan oleh mahasiswi teman kampusnya itu. Ia mengeluarkan lebih dari CN¥5,200 (setara Rp 13,5 juta) dari kantongnya sendiri, termasuk untuk uang duka. Bahkan Yu Jinhui menawarkan biaya transportasi mahasiswi itu kembali ke asrama kampus.