Ilmuan dari Nanyang Technological University (NTU) Singapura dan Waseda University Jepang baru-baru ini merilis penelitian terkait pengembangan diving suit (pakaian selam) untuk kecoak cyborg (29/6). Pakaian selam ini bisa membuat kecoak bertahan hingga 3 jam di dalam air dan lingkungan beroksigen rendah.
Penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications ini bertujuan untuk memperluas penggunaan serangga cyborg (tidak hanya kecoak cyborg) untuk misi pencarian atau penyelamatan, terutama di daerah bencana.
Serangga cyborg ini dapat menjangkau lokasi yang sulit diakses oleh robot konvensional, seperti di reruntuhan yang terendam banjir, tergenang air, atau ruangan yang terendam sebagian.
Serangga yang telah diuji coba memakai pakaian selam ini adalah spesies kecoak berdesis Madagaskar (Gromphadorhina porpentosa). Spesies kecoak ini dipilih karena berukuran besar, memiliki daya tahan tinggi, serta tidak bersayap.
Salah satu penggunaannya adalah diikutkan bersama tim Singapore Civil Defence Force dalam misi penyelamatan Operation Lionheart ketika gempa magnitudo 7,7 Myanmar pada 28 Maret 2025.
Serangga cyborg adalah serangga hidup yang dipasangi pengendali elektronik untuk mengarahkan pergerakannya. Kebutuhan energi digunakan jauh lebih kecil dibandingkan robot mini karena memanfaatkan otot alami serangga sebagai penggerak. Hal ini membuat tidak dibutuhkan baterai berdaya besar.
Meski begitu, masih ada permasalahan karena serangga cyborg tetap bergantung pada sistem pernapasan alaminya. Kecoak bernapas melalui lubang-lubang kecil yang disebut spirakel. Saat berada di dalam air, kecoak tidak dapat bernapas seperti ikan. Oleh karena itu dibuatlah pakaian selam ini.
Bagaimana cara kerjanya? Pakaian selam ini terdiri dari 3 bagian, yaitu tangki penghasil oksigen, cangkang fleksibel, dan 4 selang silikon untuk menyalurkan oksigen.
Ketiganya membentuk sistem ringkas yang dapat mencegah masuknya air, sekaligus mengalirkan oksigen langsung ke spirakel (lubang pernapasan) kecoak.
Tangki dibuat menggunakan teknologi cetak 3D dengan resin jenis PMMA. Di dalamnya ditempatkan spons yang dilapisi mangan dioksida, yakni zat yang fungsinya sebagai katalis untuk mempercepat reaksi kimia.
Untuk menghasilkan oksigen, disuntikan sedikit hidrogen peroksida yang telah diencerkan ke dalam tangki. Untuk mencegah cairan bocor, lubang tangki ditutup dengan perekat yang mengeras saat terkena sinar ultraviolet.
Mangan dioksida di dalam tangki secara perlahan menguraikan hidrogen peroksida dan menghasilkan oksigen. Oksigen lalu dialirkan melalui cangkang fleksibel dan selang silikon menuju spirakel kecoak. Cara ini membuat kecoak mampu bernapas di dalam air atau disebut juga menjadi serangga amfibi.
Dalam klaim studi ini, dikatakan bahwa selang-selang dipasangkan ke spirakel kecoak ini dapat dilepas kembali tanpa menimbulkan rasa sakit ataupun mencederai kecoak.
Pakaian selam serangga cyborg ini dikembangkan lebih dari satu dekade oleh Professor Hirotaka Sato dari School of Mechanical and Aerospace Engineering NTU Singapura. Sedangkan dari pihak Waseda University Jepang adalah Professor Shinjiro Umezo yang mengampu di Fakultas School of Creative Science and Engineering.
Untuk ke depannya, tim peneliti katakan konsep pakaian selam serangga cyborg ini berpotensi untuk digunakan serangga darat lainnya, termasuk spesies kecoak yang lain, belalang, maupun kumbang.
Serangga-serangga tersebut dikatakan memiliki struktur tubuh dan sistem pernapasan yang serupa. Mereka menyerap oksigen masuk melalui spirakel, lalu didistribusikan ke seluruh tubuh melalui jaringan saluran udara dalam tubuh.
Sebagai penutup rilis studi ini, tim peneliti kembali menegaskan bahwa serangga digunakan dalam penelitian diperlakukan dengan semestinya dan tidak ada yang terluka.