Kasus penggunaan Pendopo Ageng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang tak sebagaimana mestinya, viral tuai kecaman. Dalam video beredar di media sosial, tampak beberapa mahasiswa berjoget, moshing, hingga melakukan gerakan tak pantas dilakukan di Pendopo Ageng ISI Surakarta.
Aksi viral ini diketahui terjadi pasca penutupan EXPO UKM ISI Surakarta pada Jumat, 21 Agustus 2026, sekitar pukul 19.30 WIB. Esha Karwinarno selaku Kabag Akademik dan Kemahasiswaan ISI Surakarta, menyebut acara tersebut telah di luar kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) (22/8).
Dilansir detikJateng (22/8), Esha katakan para mahasiswa berjoget karena acara ditutup dengan penampilan musik band. Disebut pula para mahasiswa yang menari dalam acara tersebut itu banyak mahasiswa senior.
Esha juga tak menampik jika ada pihak luar yang ikut dalam acara tersebut. Meski begitu, ia tegaskan para mahasiswa dalam rekaman viral itu tidak dalam keadaan mabuk. Pihaknya meminta maaf dan mengakui telah melakukan kesalahan menempatkan kegiatan itu di Pendopo.
Dalam konferensi pers di Rektorat ISI Surakarta yang digelar hari ini (24/8), Bondet Wrahatnala selaku Rektor ISI Surakarta, memohon maaf atas terjadinya kejadian yang viral tersebut. Pihak kampus akan berkolaborasi dengan Komite Etik Mahasiswa dan melibatkan Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) untuk menentukan sanksi yang akan diberikan kepada terduga pelaku.
Bondet menyebut dalam kejadian ini ditengarai ada 2 mahasiswa ISI Surakarta dan seorang mahasiswa kampus lain yang terlibat. Pihaknya telah berkomunikasi dengan kampus bersangkutan terkait permasalahan ini. Untuk antisipasi kejadian serupa, ISI Surakarta akan lakukan sejumlah tindakan preventif, termasuk berikan penguatan pada mata kuliah terkait budaya.
Awal kasus ini viral, disebut ada keterlibatan mahasiswa baru. Aris Setiawan selaku Dekan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Surakarta, katakan tidak ada keterlibatan mahasiswa baru. Namun jika pun ada, ia memohon untuk tidak justifikasi ini sebagai kesalahan. Menurutnya, mahasiswa baru belum tahu bagaimana menghargai budaya.