IDWS.ID

Bola Nasional

Bikin Pernyataan Kontroversial, Anggota Exco PSSI Haruna Soemitro Sulut Amarah Warganet dan Suporter Timnas Indonesia

17 Jan 2022

Anggota Exco PSSI, Haruna Soemitro, menyulut kemarahan warganet dan para pecinta sepakbola Tanah Air lewat pernyataan-pernyataan kontroversial yang sulit untuk dipercaya keluar dari mulut seseorang di jabatannya. Luar biasa!

IDWS, Senin, 17 Januari 2022 - Dalam podcast dengan JPNN di kanal YouTube JPNN.com pada 15 Januari 2022. Haruna Soemitro yanng mewakili Exco PSSI dalam podcast tersebut menjadi narasumber di mana berbagai topik mengenai sepakbola nasional dibahas, mulai dari kritikan terhadap performa timnas di bawah pelatih Shin-Tae-yong (STY) bahkan hingga judi bola dan pengaturan skor alias match fixing,

Pernyataan-pernyataan Haruna Soemitro terkait topik-topik sensitif di sepakbola nasional dalam podcast JPNN itulah yang memicu kontroversi dan mengundang amarah para pecinta sepakbola Indonesia dan Tim Nasional.

Lantas, apa sih Exco PSSI itu?

Mengutip laporan kumparan pada 21 Desember 2020, Exco PSSI sendiri berisikan total 15 nama yang terdiri dari 3 ketua dan 12 anggota. Menurut statuta PSSI 2019 dalam pasal 40 tentang Kewenangan Komite Eksekutif, disebutkan bahwa Exco memang memiliki kuasa untuk menentukan arah sepak bola Indonesia. Misalkan, soal perubahan nama, identitas, dan home base sebuah klub.

Berikut ini poin-poin penting dari pernyataan Haruna Soemitro di podcast JPNN yang kontroversial.

 

Proses tidak dilihat, yang penting hasil

"Apa pun di sepak bola, tanpa prestasi itu nothing. Jadi, mau di PSSI mau di klub yang paling pertama orang lihat adalah prestasi. Proses tidak dilihat," kata Haruna Soemitro.

Ini berarti secara langsung ia bentrok dengan kebijakan pelatih Timnas Indonesia, STY, yang mementingkan proses dan perkembangan terlebih dahulu sebelum prestasi.

Haruna Soemirto mengaku dalam diskusi bersama STY, pihaknya mempertanyakan kenapa kekalahan 0-4 dari Thailand di Piala AFF kemarin menjadi bagian dari proses. Padahal yang namanya proses, kegagalan atau kekalahan dalam kasus ini itu adalah sesuatu yang sangat amat normal dijumpai.

"Meskipun proses bagus. Tadi kami diskusi dengan Shin Tae-yong. Mengapa proses di kita seperti ini. Kenapa kemarin sampai kalah 4-0 dari Thailand padahal kita tidak pernah kalah sebesar itu.

Di SEA Games yang baru saja kita sudah menang 2-0. Kenapa kemarin kita bisa kalah? Dia bilang Anda tidak tahu prosesnya. Ya memang begitu sepak bola. Orang tidak mau lihat proses, yang mau dilihat hasil," kata Haruna.

"Apa pun di sepak bola, tanpa prestasi itu nothing. Jadi, mau di PSSI mau di klub yang paling pertama orang lihat adalah prestasi. Proses tidak dilihat," tandasnya.

 

Klub mana bisa sogok wasit, pendapatan kalah dari judi bola

Ketika membahas mengenai judi bola, Haruna Soemitro ditanya apakah sudah tidak ada lagi ceritanya nyogok-nyogok wasit dari pihak klub.

"Masak bisa jangkau itu klub apa itu namanya, mau nyogok wasit. Saya justru melihat bisa jadi [bandar judi yang menyogok wasit] karena dari segi apa pun Indonesia punya pasar luar biasa. Baik pasar gelap, pasar terang, pasar setengah gelap, pasarnya luar biasa.

Dari informasi-informasi yang saya dapat bahwa omzet perjudian di sepakbola ini luar biasa besarnya, ratusan miliar," katanya.

Ketika ditanya jumlah tersebut berasal dari satu pertandingan, Haruna mengiyakan.

"Iya, artinya dalam satu match saja sudah ratusan miliar. Klub untuk membiayai operasional gaji pemain dam (tidak terdengar jelas) saja dalam satu tahun dia 40 miliar setengah mati dia mencarinya," jawabnya.

Dari pernyataannya tersebut, Haruna Soemitro bukannya membahas cara atau usaha pihaknya untuk menumpas judi bola, namun malah seperti menyindir pendapatan pihak klub yang pendapatannya kalah dari bandar judi sehingga jika judi bola memang terjadi, maka yang menyogok untuk memengaruhi hasil akhir pertandingan adalah pihak bandar judi bukan klub sepakbola. WOW!

 

Match fixing bukan untuk diberantas!

Barangkali, ini pernyataan Haruna Soemitro yang paling kontroversial dalam podcast JPNN. Begitu kontroversialnya sampai banyak orang yang sulit memercayai hal itu bisa keluar dari salah satu anggota Exco PSSI.

Haruna Soemitro menyebutkan bahwa Undang-Undang negara kita belum sampai menjangkau ke para pelaku perjudian sepakbola sehingga bisa dibilang tidak ada yang mengawasi mereka. Akan lebih riil apabila polisi sebagai petugas penegak hukum yang memberantas judi bola, tanpa menyebut sama sekali bahwa PSSI sebagai organisasi induk sepakbola nasional juga seharusnya turun tangan atau berinisiatif melakukannya.

Ia juga menyatakan bahwa tidak mungkin untuk melawan perjudian dan pengaturan skor dalam sepakbola. Jadi, karena merasa tidak mungkin  jadi tidak usah dilawan gitu pak?

"Saya justru berharap PSSI dalam hal ini jangan hanya terbawa-bawa arus kepada soal pemberantasan match fixing, karena match fixing riilnya match fixing itu bukan sesuatu yang harus diberantas, tetapi sesuatu yang apa itu namanya, dilihat secara proporsional bahwa apakah benar ada dan kemudian baru kemudian kita melangkah kepada cara mengatasinya," tukas Haruna.

"Match fixing apakah dilakukan oleh para football family? Menurut saya tidak. Hari ini football family menurut saya masih pada tingkatan punya harga diri, punya sportivitas, punya mentality yang menurut saya teman-teman saya di football family tidak terjangkau ke sana," tambahnya.

Entah apa yang dimaksud Haruna sebagai football family.

 

Kalau hanya runner-up tidak perlu Shin Tae-yong

"Shin Tae-yong punya target menjadi juara Piala AFF U-19 (maksudnya U-23) di Kamboja. Itu targetnya juara. Piala AFF 2022, yang kemarin kan Piala AFF 2020 yang dilaksanakan 2021, itu nanti targetnya juara," ujar Haruna.

"Ada komitmen baru dengan coah Shin Tae-yong bahwa ke depan kita harus betul-betul punya target yang sama, road map yang sama, dan keinginan pelatih harus sama dengan pelatih.

Saya tadi sampaikan dalam rapat evaluasi kalau hanya runner-up, tidak perlu Shin Tae-yong. Karena kita sudah beberapa kali jadi runner-up," tandas Haruna Soemitro.

 

Sebut Shin Tae-yong tersinggung dan mengecoh orang Indonesia

Ketika ditanya tentang reaksi STY setelah mendengar kritikan darinya maupun pengurus-pengurus PSSI lainnya, Haruna mengklaim bahwa STY tersinggung.

"Shin Tae-yong tersinggung. Jadi seolah-olah kita ini merecoki dia. Saya bilang, bagaimana Anda bisa tersinggung dengan kritik. Saya ini adalah exco yang membawa aspirasi dari sekian banyak klub, sekian banyak stakeholder terhadap ekspektasi.

Tidak bisa Anda jawab dengan tersinggung bahwa beban Anda berat. Kalau orang bekerja ya bebannya berat. Dia bilang, beban saya sudah berat tangani U-19, U-23, senior. Sekarang kok malah dikritik terus bagaimana? Tidak diberi dukungan," imbuh Haruna.

Haruna kemudian menuduh STY sudah mengecoh orang Indonesia.

"Anda mem-bluffing (mengecoh) orang Indonesia sudah biasa, sekarang anda dikritik malah kemudian [bersembunyi di belakang suporter]."

 

STY disebut tidak bermanfaat bagi klub

"Saya ini banyak mendapat masukan dari pelatih Liga 1. Banyak menelpon saya, diskusi sama saya begini: coaching point apa yang kita dapat dari Shin Tae-yong selama melatih Tim Nasional?" tutur Haruna.

"Apakah dengan metode dan proses yang dilakukan Shin Tae-yong ini bisa diterapkan dan ditransformasi ke klub sehingga melahirkan liga yang kuat. Faktanya, katanya pelatih yang beri saran pada saya, belum ada.

Mayoritas klub Liga 1 melakukan proses dari kaki ke kaki. Proses build-up dari bawah. Tapi, proses latihan dan game plane Shin Tae-yong justru direct ball. Passing bergerak, direct ball. Wajar jika Shin Tae-yong menerima pemain yang tidak siap," sambungnya.

Padahal jika diamati, gaya bermain Timnas Indonesia di tangan STY sudah menunjukkan permainan operan-operan dari kaki ke kaki dan justru klub-klub Indonesia yang masih sering melakukan direct pass.

 

Tidak setuju dengan pemain naturalisasi

"Saya termasuk rezim yang tidak setuju dengan naturalisasi. Saya memang berbeda dengan (Ketua PSSI). Saya selalu berdebat urusan naturalisasi," kata Haruna.

"Sekarang ambil contoh apa yang kita hasilkan dari naturalisasi sampai saat ini?

Kritik saya begini. Ketika kita mau menaturalisasi kita harus aple to aple dengan pemain lokal kita. Apakah pemain lokal kita tidak ada yang sebagus itu. Contoh, sorry ya, contoh Sandy Walsh umpamanya, pemain belakang posisi bek kanan atau apa, sekarang pertanyaannya bagus mana Sandy Walsh dengan Asnawi Mangkualam?

Kalau kemudian kedatangan dia menghilangkan kesempatan bagi anak bangsa kita, itu menjadi masalah besar kan begitu," imbuhnya.

 

 

 

(Stefanus/IDWS)


Sumber: YouTube JPNN.COM, bola.com

Foto fitur: YouTube JPNN.COM

Share    

IDWS Promo